Isn’t “Just Alvin,” its Alvin and Friends!


Mungkin banyak diantara kita tidak tahu talk show apa saja yang ditayangkan di Metro TV selain Kick Andy. Beberapa talk show yang disajikan di stasiun televisi tersebut kurang begitu dikenal luas oleh masyarakat. Pasalnya, image yang menempel pada stasiun berlogo kepala elang ini, berat, tidak egaliter, dan beraromakan politik. Bukan tanpa sebab, memang pada dasarnya pangsa pasar yang disasar secara ekonomi adalah goolongan menengah atas, pun yang mempunyai “intelektualitas”.

Sedikit menyalahi mainstream dari Metro, Just Alvin hadir dengan format talk show yang mengulas seputar kehidupan selebritis. Menarik tentunya mengetahui motif dihadirkannya Just Alvin kehadapan publik. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin melatabelakanginya. Pertama, perluasan pangsa pasar. Kedua, sekadar pemenuhan fungsi unsur media, to entertain. Atau ketiga, sekadar program untuk pencapaian batas minimal acara yang berkonten lokal.

Terlepas dari segala motif yang mendasarinya, sebagai program acara talk show di stasiun yang bukan mainstream, Just Alvin patut dan layak ditelisik lebih dalam. Terutama dari sisi pesan yang ingin disampaikan maupun cara penyampaiannya. Kita tahu, semua hal yang terlihat secara artifisal dalam sebuah acara dapat dimaknai sebagai pentranskodean pesan, baik itu hanya berupa pencitraan, budaya tanding, bahkan propaganda sekalipun. Begitu pula dengan Just Alvin, walau program hanya mengulik seputar kehidupan selebritis.

Berdasarkan pesan suatu program, kita bisa mengetahui mengenai ideologisasi dan sesuatu yang direpresentasikannya. Dalam hal apapun, baik itu program televisi, film, dan bentuk media lain, ideologisasi yang dihadirkan bersifat relasional dan kontekstual dengan kondisi sosio-politik saat program tersebut ditayangkan (Kellner, 2010). Selain itu, bisa jadi ideology yang dibawa merupakan ideology tandingan dari ideology yang sudah ada dan dibawa oleh bentuk media yang lain. Secara umum, ideology dapat dibaca berdasarkan teks dan konteks karena berupa tanggapan atas perlawanan, dan sebagai tanda ancaman pada hegemoni kelompok, gender, dan ras yang dominan (Kellner, 2010).

Berawal dari hal tersebut, Just Alvin bisa dibaca sebagai penanding ideologi dari ideology tanding. Maksudnya, konsep yang diabawa oleh Alvin Adam, sang konseptor Just Alvin, mengesankan acara tersebut sangat berkelas. Ia seperti ingin mengembalikan kejayaan program-program “berkelas” yang sempat kalah pamor dengan program “menye-menye,” bahkan hingga sekarang. Kesan ini terlihat sekali dalam tema-tema yang diangkat Just Alvin. Ada empat kategori yang paling tidak yang harus ada dalam tema program ini; friendship, untold, achievement, dan trust. Pun  paling tidak jika hanya mewakili salah satu kategori, tema tersebut diulas secara mendalam (in depth story). Selebritis yang dihadirkan pun bukan sembarangan. Hanya yang benar-benar berkompeten dalam tema yang diundang.

Sebagai contoh, pada Just Alvin episode 24 Oktober 2010, tema yang diangkat adalah Untukmu Bangsaku. Beberapa minggu sebelunya, temanya adalah Garin Nugroho dan Prestasi. Sebelumnya lagi walau terkesan sama dengan yang lain dalam hal menye-menye adalah diangkatnya tema  Perceraian Maia. Uniknya, pada pengangkatan tema,  kisah perceraiaan Maia tidak lagi menjadi hot topic di publik. Waktu itu, bukan gosip yang diperbincangkan, melainkan fakta. Pembicaraan lebih kepada pendekatan faktanya, bukan katanya. Pendekatan ini dimaksudkan agar Just Alvin tidak disamakan dengan infotainment. “Jika terjerumus pada ranah infotainment, sudah nggak Metro banget,” papar Alvin saat diwawancarai tabloid Nova edisi 5 Desember 2009. Karena konsep inilah, artis yang anti-infotainment seperti Tora Sudiro dan Mieke Amalia bersedia ngobrol panjang lebar mengenai hidupnya di Just Alvin.

Tidak hanya tema, selebritis yang dihadirkan juga terbukti qualified pada topik yang sedang diangkat. Saat tema Untukmu Bangsaku, yang hadir adalah Fahira Idris, Wanda Hamidah, Rieke Dyah Pitaloka, dan Glen Fredly. Mengapa mereka? Fahira Idris adalah ketua harian  Perbakin DKI Jakarta, ketua Gerakan Masyarakat Cinta Damai, dan yang terbaru serta membuatnya bak selebritis adalah penobatan dirinya sebagai pengguna Twitter terinspiratif sejagad. Wanda Hamidah dan Rieke, mempunyai latar belakang keartisan, dan kini memiliki persamaan karir sebagai anggota legislatif. Sedangkan Glen, baru saja berperan sebagai rotor perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia timur.

Menurut pandangan saya, selebritis-selebritis yang menjadi bintang tamu di Just Alvin merupakan bentuk representasi dari kebudayaan yang mapan dan perwujudan citra kelas atas. Kebudayaan yang selama beberapa waktu terakhir terhegemoni oleh kebudayaan kelas bawah. Kebudayaan yang lebih menunjukan kualitas daripada sekadar kuantitas. Penekanan kualitas bukan berarti program yang mengutamakan kuantitas –baik dari rating atau share– adalah jelek atau rendah. Kualitas program disini lebih memberikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan oleh khalayak.

Balutan pakaian yang dikenakan oleh host dan tamunya juga menunjukan positioning kelas khalayak mana yang disasar. Dalam setiap memandu acara, sangat sering Alvin mengenakan jas yang dipadukan dengan kaos ataupun vest. Tim kreatif nampaknya juga bekerja keras dengan mendandani tamu sesuai dengan konsep acara. Dengan bergaya elegan, rapi, dan casual menjadikan acara ini secara penampakan  seperti talk show politik, bahkan menyerupai MDGs Dialogue. Jika dilihat sekilas yang membedakan Alvin dengan program-program “berat” hanya tata panggungnya yang minimalis dan penuh dengan sentuhan warna ungu soft.

Program yang mengudara sejak 12 Desember 2008 ini, walau menurut banyak pihak dan Alvin sendiri nggak Metro banget, tapi sanggup menempati urutan kedua terbesar untuk rating dibawah Kick Andy pada 2009. Angka rating yang tinggi berarti cukup mendapatkan apresiasi dari khalayak. Ada dua kemungkinan sebuah program diterima khalayak. Pertama, program tersebut sangat atraktif sehingga menembus batas dan lapisan-lapisan kebudayaan. Kedua, ada khalayak yang cukup konservatif dalam menikmati sebuah acara, sehingga hanya mau menonton yang sesuai kelasnya. Jadi, memetakan penonton Just Alvin mungkin lebih banyak yang konservatif, karena pada dasarnya jenis talk show berkonsep classy tidak banyak yang suka.

Jika digeneralisir, Just Alvin sangat bersifat elitis. Berbeda misalnya dengan program yang ditujukan untuk kelas bawah, bisa jadi proletar, yang lebih menitik beratkan pada aspek to entertain bukan to inform. Pertentangan antara kaum elitis dan proletar di dalam media mungkin seperti siklus. Tergantung mana yang lebih lihai memanfaatkan momentum dan kesempatan, itulah yang mendominasi di media. Lantas, timbulah masalah baru, lantaran terjadi bias dalam pemetaan program yang elitis, konservatif, progresif, atau liberal. Soalnya, semua berorientasi pada pasar, terkecuali ada program yang sengaja dibuat untuk tujuan propaganda seperti Miami Vice di MTV atau film Rambo dan Rocky pada masa pemerintahan Reagan (Kellner, 2010)

Disamping semua itu, Just Alvin sebagai talk show menurut opini pribadi saya, secara keseluruhan  masih lebih berkualitas dari program sejenis, misal  Bukan Empat Mata. Just Alvin memberikan apa yang seharusnya dihadirkan oleh sebuah acara “talk”. Karena menggunakan sebutan talk, penekanan program ada pada interaksi yang terjalin antara pembawa acara dan bintang tamu. Namun begitu, pusat perhatian program lebih ditekankan pada bintang tamu. Tidak seperti Bukan Empat Mata yang sangat Tukul sentris. Just Alvin, lebih berbasis pada SCL, s(c)elebrity center learning, begitu kiramya jika boleh dibahasakan secara akademis.

Bukankah yang ingin diketahui khalayak adalah informasi mengenai selebritis yang  dihadirkan, bukan informasi ataupun banyolan dari host. Jika sebuah program talk hanya bertumpu pada banyolan host, lebih baik program tersebut diganti saja namanya menjadi komedi atau drama monolog. Begitu lebih cocok.

Referensi

Kellner, Douglas. 2010. Budaya Media: Cultural Studies, Identitas, dan politik antara Modern dan Postmodern. Yogyakarta: Jalasutra

West, Richard. Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jilid II. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Tarmizi, Ahmad. 2009. Alvin Adam: “Bohong Penonton Enggak Suka Infotainmen.” Tabloid Nova edisi 5 Desember 2009. Diakses dari <http://www.tabloidnova.com/Nova/Selebriti/Profil-Selebriti/Alvin-Adam-Bohong-Penonton-Enggak-Suka-Infotainmen> tanggal 23 Oktober 2010.

Tentang arifakbarjp

seorang pembelajar dari Jogja.

Posted on November 27, 2010, in artikel, opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.